Jul 19, 2012

ASAKU HARAPANKU

,
Perkenalkan namaku Ilham. Aku terlahir dari seorang keluarga yang berkecukupan dan saat ini sedang duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama kelas 3. Sedangkan adikku masih di kelas 1.
     “Alhamdulillah yah bang sesuatu , saat ini kita bisa sekolah sampai setinggi ini yaitu di tingkat Menengah Pertama seperti sekarang ini ” kata adikku.

     “Iya” jawabku singkat.

     “Yah… semua ini berkat kerja keras ibu dan ayah mulai pagi hingga menjelang malam ” lanjutnya.

     “Pasti itu, maka dari itu mulai sekarang kita harus bisa bahagiain ibu dan ayah” cetusku.

     “Baiklah bang” jawab adikku.

Darisini sudah sepatutnya sebagai seorang anak harus menyadari betapa besarnya kasih sayang dari orang tua.


Hingga suatu hari kami kami berkumpul.

     “Mengapa setiap hari ibu dan ayah selalu bekerja keras mulai pagi hingga menjelang malam ?” tanyaku sambil memandang mereka

    “Ibu dan ayah kerja keras seperti ini semata-mata hanya untuk kesuksesan kalian berdua. Kami rela melakukan semua ini walaupun sampai titik darah penghabisan asalkan kalian bahagia di masa depan nanti” jawab mereka panjang lebar.

     “Iya kami tau, tapi kami juga merasa kurang mendapat perhatian lebih dari kalian. Sebenernya kami ingin share ke kalian tentang pengalaman di sekolah mulai dari teman, musuh, guru, pelajaran sampai orang yang kita sukai. Apa mungkin kalian bisa meluangkan waktu sejenak untuk bisa share bareng kayak dulu lagi ?” cetusku.



     “Kalau gitu, maafkan kami, Nak”

     “Ehmmm… okedeh Bu.. Yah.. Kami berbicara seperti itu karena tidak ingin ada beban di pikiran yang bisa mengganggu belajar di sekolah” jawabku.

     “Baiklah ! Aku mengerti. Tapi saat ini waktu udah malam, lagian aku juga ngantuk. Jadi saatnya kami semua untuk tidur” sahut adikku.

Setelah itu aku pun sempat berfikir “kapan ya bisa kumpul bareng lagi dengan keluarga seperti itu tadi ?”.

          Oh ya, salah satu hal yang terpenting dari orang tuaku adalah tidak pernah lalai dengan hari kebahagiaan saudar-saudaranya terutama anaknya. Yah… bisasalah mereka kan selalu jadi orang paling istimewa di saat hari kebahagiaan itu berlangsung.


          Hingga suatu saat tak terasa sudah menginjak tanggal 20 Agustus. “Wah, 4 hari lagi aku ulang tahun” ujarkudengan perasaan yang sangat senang. Namun, disela-sela kesenangan itu aku pun sempat berfikir negatif terhadap kedua orang tuaku “Gimana ya kalo misalnya ibu dan ayah seakan lupa dengan hari itu ? Apakah mereka lebih mementingkan pekerjaannya dibandingkan aku ? Tapi mudah-mudahan tidaklah” pikirku.

          Nggak terasa dua hari telah berlalu, lusa adalah hari yang paling kutunggu tunggu yaitu hari ulang tahunku. Tetapi mengapa tidak terlihat adanya persiapan untuk merayakan hari kebahagiaan itu ?.

     “Apa mungkin mereka udah nggak peduli sama aku lagi ?” ucapku sedih.

Ehhmm… tapi biar sajalah ! Mungkin mereka sudah mengira kalau aku udah gede, jadi nggak perlu lagi hari itu harus dirayain.

     “Oke.. aku rela hari ulang tahunku nggak dirayain, tapi akuharap mereka masih memberikan ucapan “SELAMAT HARI ULANG TAHUN” kepadaku tepat di hari itu. Menurutku itu aja juga udah cukup kok” harapku.


          Detik demi detik berlalu hingga berganti menit, menit pun berlalu hingga berganti jam dan jam pun juga berlalu hingga mengantarkan hari dan tanggal untuk segera berubah. Di saat itu sang surya pun mulai terbit untuk menerangi seisi dunia di pagi itu. Kemudian “Horeeee… hari ini adalah hari ulang tahunku” sorakku dalam hati. Hari ulang tahunku saat ini kebetulan jatuh tepat di hari Rabu yang juga bersamaan dengan liburan semester.


          Tak lama di saat itu, Tok… Tok… Tok ! Ada seseorang yang mengetuk pintu kamarku.

     “Siapa disana ?” tanyaku pada seseorang yang mengetuk pintu kamarku itu.

     “Ini Azizah, abang” jawabnya

     “Oh, ternyata kamu dek. Kirain siapa ? masuk aja” jawabku setelah itu.

     “Siipp deh bang”

     “Ehmm… Tumben pagi-pagi gini udah bangun biasanya kan molor, hahaha” ledekku.

     “Ah.. dasar orang ngeledekan” jawabnya.

     “Iya deh maaf, abang kan cuma bercanda. Emang ada apa kok pagi-pagi udah nyamperin aku ?”

     “Okelah kalo begitcu. Sekarang tanggal 24 Agustus kan bang ?” tanya adikku.

     “Gatau! Emang kenapa ?” jawabku sambil pura-puta nggak tahu.

     “Happy birthday abang. Longlife ya, wish you all the best and God Bless You always” ucapnya.

     “Oh, makasih bangeeet ya dek” balasku.

     “Sama-sama abang”

Tak terasa, ternyata kami sudah lama berbincang-bincang. Akhirnya aku pun memutuskan untuk segera keluar dai kamar dan bergegas menemui kedua orang tuaku. Dan ternyata saat itu mereka terlalu terburu-buru untuk segera pergi ke kantor sehingga tidak sempat memberikan ucapan “SELAMAT HARI ULANG TAHUN” itu kepadaku.

     “Yah… rasanya sedih dan kecewa banget pastinya”

          Detik demi detik seakan terlalu cepat untuk berlalu. “Apakah tidak ada kebahagiaan lagi untukku selain dari adikku ? Apakah mereka semua lupa tau mungkin hanya lupa yang disengaja ?” pikirku sedih.


          Sang surya pun kembali terbenam yang merupakan pertanda akan tiba datangnya malam. Namun tidak ada kejadian yang istimewa di hari itu. Semua berjalan seperti biasa. Dan seakan hari itu terasa tak berguna lagi untukku. Untuk yang kedua kalinya, aku pun berfikir negatif lagi mengenai kedua orang tuaku “Apakah orang tuaku sudah tidak memperdulikanku lagi ? Apakah aku sudah tidak berguna lagi bagi mereka ?”.

          Di saat sedang merenung karena merasa kesepian, akhirnya aku pun memutuskan untuk nyanyi lagunya vierra dengan judul kesepian yang sesuai dengan keadaanku saat ini.

“Dimana.. kamu dimana..

 disini.. bukan

 Kemana.. kamu kemana..

 kesini.. bukan

 Katanya pergi sebentar

 ternyata lama…

 Tahukah aku sendiri

 menunggu kamu..

 Jangan pergi-pergi lagi

 aku tak mau sendiri

 temani aku tuk sebentar saja

 agar aku tak kesepian”.

Tak lama setelah itu, adikku datang  menghampiriku. Kemudian dia berkata “Sabar ya bang, mungkin ibu dan ayah terlalu mementingkan pekerjaannya sehingga harus lalai dengan kebahagiaanmu. Tapi ingatlah kata mereka saat itu bahwa “IBU DAN AYAH KERJA KERAS SEPERTI INI SEMATA-MATA HANYA UNTUK KESUKSESAN KALIAN. KAMI RELA MELAKUKAN SEMUA INI MESKIPUN SAMPAI TITIK DARAH PENGHABISAN ASALKAN KALIAN BAHAGIA DI MASA DEPAN NANTI” nasihat adikku panjang lebar.

     “Iya dek, makasih ya udah diingingetin. Nggak seharusnya abang merenung kayak itu tadi” ujarku.

     “Samasama abang. Nah, gitu dong cemunguuut. Oh ya bang, hidup jangan dibuat sedih dan susah tapi dibuat happy aja” cetus adikku.

     “Okelah” jawabku singkat.

          Akhirnya beberapa jam sudah meninggalkan hari ulang tahunku dan kini pun telah berganti menjadi kamis dan tanggal 25 Agustus. Namun, masih ada rasa sedih dan kekecewaan yang mungkin tertinggal sehingga secara tak sadar aku pun mengatakan “buat apa hari itu terjadi untukku jika tidak ada kebahagiaan saat itu dan melainkan hanyalah rasa sedih dan kecewa yang kurasakan”.


          Berjalan beberapa hari setelah itu kedua orang tuaku menghampiriku

     “Ada apa Bu.. Yah.. ? tanyaku

     “Nggak apa-apa, Nak. Kami hanya mau meminta maaf. di saat itu kami terlalu mementingkan pekerjaan dibandingkan dengan kebahagiaanmu tepat di hari ulang tahunmu” jawab mereka.

     “Iya, nggak apa-apa kok. Aku mengerti dengan apa yang dilakukan ibu dan ayah di saat itu” sahutku.

     “Terima kasih karena kamu udah bisa mengerti dengan ibu dan ayah” ucap mereka.

     “Samasama” jawabku singkat.

          Akhirnya mereka mengajakku ke suatu tempat. “Entahlah! Kemana mereka mengajakku ?” pikirku. Ternyata mereka mengajakku ke sebuah restaurant yang cukup terkenal yaitu “Lesehan Podojoyo” untuk makan malam bareng. “Wah, nggak nyangka banget men” ucapku. Saat itu ibu langsung memesan 3 ikan gurami, 1 ayam panggang, 4 nasi putih dan menu lainnya. Sambil menunggu makanan datang, kami saling berbagi pengalaman. Kira-kira 30 menitan di situ

     “Pulang yuk, kita udah lama disini lagian aku juga udah capek” ucap adikku. Akhirnya kami pun memutuskan untuk segera beranjak pulang ke rumah.


          Saat tiba di rumah, “Masih ada kejutan satu lagi untukmu, Nak” ucap ibu dan ayah.

     “Betulkah ? Wah, nggak nyangka lagi deh. Apa itu, Bu.. Yah ?” tanyaku penasaran.

     “Ya, betul. Lihat saja sendiri” jawab mereka.

Dan ternyata kejutan itu berupa kado yaitu sebuah computer.

     “Ini kado yang tidak seberapa dari kami, Nak” kata mereka.

     “Wah, computer ? Ini adalah kado yang sejak dulu ku harapkan. Terima kasih ibu dan ayah yang udah memberiku computer ini. Computer ini sangat berarti besar bagi Ilham karena fasilitas belajarnya lebih lengkap sehingga dapat belajar lebih giat lagi” jawabku panjang lebar dengan perasaan yang sangat senang.  

     “Ya, samasama” jawab mereka singkat.


          “ Mulai detik ini aku tidak boleh berfikir negatif terhadap kedua orang tuaku. Bukan hanya itu, di sepanjang perjalanan hidupku mereka rela bekerja keras dan selalu membawa kebahagiaan demi kesuksesanku di masa depan nanti. Saat ini aku hanya bisa tersenyum senang sambil melihat mereka. Terima kasih ibu dan ayah kasih sayangmu tidak akan terganti oleh apapun. Karena kalianlah orang terindah dalam hidup dan matiku sekarang.. esok.. dan selamanya..” J

0 komentar to “ASAKU HARAPANKU”

Post a Comment

Berikan komentar yang bersifat membangun

 

Wrote Knowledge Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger